Antara Kemesraan Pejabat-DPRD dan Kekecewaan Warga: Menagih Janji yang Hilang di Bathin Solapan

Rakyatmerdekanewa.co.id, Bengkalis – 6/2/26. Kontestasi politik seringkali meninggalkan jejak janji yang manis di telinga warga, namun pahit saat ditagih. Sebuah fenomena “kacang lupa kulitnya” kini tengah dirasakan warga masyarakat Kabupaten Bengkalis. Kali ini, sorotan tertuju pada oknum pejabat daerah yang diduga mengkhianati janji lisan yang pernah diucapkannya demi memenangkan salah satu calon anggota DPRD Kabupaten Bengkalis.

Kisah ini bermula saat masa pencalonan, di mana oknum pejabat tersebut menjadi perantara dan meyakinkan warga untuk memenangkan kandidat jagoannya. Secara lisan dan dari “hati ke hati”, ia menjanjikan sebuah komitmen kepada warga jika sang calon berhasil duduk di kursi legislatif.

Namun, bak pungguk merindukan bulan. Setelah dua tahun sang anggota DPRD Bengkalis tersebut menjabat dan menikmati fasilitas negara, janji lisan yang diharapkan warga justru menemui jalan buntu. Pejabat perantara yang dulunya begitu bersemangat merangkul warga, kini seolah-olah mengidap “amnesia” politik.

Warga yang mencoba menagih janji lisan tersebut justru mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan. Alih-alih mendapatkan kejelasan, warga malah disambut dengan dalih sedang dalam kondisi susah. Ironisnya, sang pejabat kini terlihat kian mesra bergandengan dengan sang anggota DPRD terpilih, sementara komunikasi dengan warga yang dijanjikannya justru diputus sepihak.

“Warga sebenarnya tidak meminta ini dan itu secara berlebihan. Mereka hanya menagih apa yang sudah dijanjikan secara lisan dahulu sebagai komitmen perjuangan bersama. Tapi sekarang, jangankan menepati janji, berkomunikasi saja seolah-olah warga yang menyakitinya,” ungkap seorang warga yang enggan disebutkan namanya dengan nada kecewa.

Sikap oknum pejabat daerah ini dinilai sebagai bentuk pengkhianatan terhadap kepercayaan masyarakat. Alasan “sedang susah” dianggap sangat tidak masuk akal mengingat posisinya sebagai pejabat dan kedekatannya dengan lingkar kekuasaan saat ini.

Kejadian ini menjadi pelajaran berharga bagi masyarakat Bengkalis untuk lebih berhati-hati terhadap janji-janji manis para perantara politik. Integritas seorang pejabat tidak hanya diukur dari laporan kinerjanya kepada atasan, tetapi juga dari kemampuannya memegang kata-kata yang diucapkan kepada rakyat kecil di bawahnya.(FN)

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *