Rakyatmerdekanews.co.id, Bireun – Di balik dinding yang nyaris roboh, lantai tanah yang dingin, dan atap bocor yang tak lagi mampu menahan hujan, tinggal harapan yang nyaris padam. Namun hari itu, harapan itu menyala kembali. Di tangan seorang pemimpin yang memilih menyusuri lorong sempit kampung dan bukan lorong kekuasaan, rumah layak huni benar-benar hadir—tanpa bayaran, tanpa pungutan, tanpa tipu daya.
Dialah H. Mukhlis, S.T., Bupati Bireuen, yang setiap harinya menjejakkan kaki ke pelosok-pelosok desa untuk menyaksikan sendiri: siapa rakyatnya yang paling layak disentuh keadilan. Tak hanya memimpin dari balik meja, ia memimpin dengan mata hati.
Dalam program kolaborasi Pemerintah Kabupaten Bireuen dan Baitulmal, Mukhlis menargetkan 150 unit rumah gratis dibangun sepanjang 2025 untuk masyarakat miskin ekstrem. Rumah ini bukan sekadar proyek pemerintah, tapi penghormatan bagi martabat rakyat kecil yang kerap dilupakan.
“Jangan pernah percaya pada siapapun yang meminta uang demi rumah ini. Ini bantuan dari pemerintah. Gratis. Murni untuk rakyat miskin. Jika ada yang bermain, akan saya coret langsung—tanpa pandang bulu,” ucap Mukhlis dengan tegas kepada awak media, Selasa (3/6/2025).
Tegas di kebijakan, namun lembut di lapangan. Mukhlis tak segan menyapa warga miskin di gubuk reyot. Ia mendekap anak-anak yang terbiasa tidur sambil memeluk dingin. Dalam setiap rumah yang ia datangi, bukan hanya catatan ia buat—tetapi juga tekad: rumah itu harus berdiri, agar air mata tak lagi menjadi selimut malam.
“Saya tidak ingin bantuan ini hanya formalitas. Ini hak mereka. Saya ingin rakyat saya tidur di tempat yang layak, bukan di sudut dinding lapuk,” tuturnya dengan suara bergetar, matanya berkaca-kaca menyaksikan kondisi memilukan seorang ibu tunggal yang bertahan hidup di rumah berlubang-lubang.
Mukhlis mengingatkan: bantuan rumah hanya diberikan sekali seumur hidup. Ia berharap warga yang menerima merawatnya sepenuh hati, karena rumah ini bukan sekadar bangunan, tapi awal dari kehidupan yang lebih manusiawi.
“Anggap rumah ini sebagai berkah. Tempat anak-anak tumbuh dengan senyum, tempat orang tua menutup mata dengan tenang,” ujarnya lirih.
Program ini bukan hanya membangun tembok dan genteng. Ia membangun harapan, harga diri, dan rasa percaya rakyat terhadap pemerintah. Di tengah situasi ekonomi yang menekan, langkah ini menjadi bukti bahwa negara belum sepenuhnya hilang arah. Bahwa pemimpin sejati masih ada yang menjejak tanah rakyat, bukan sekadar menginjak podium kekuasaan.
Dan di salah satu sudut desa, seorang ibu menangis. Bukan karena lapar, tapi karena untuk pertama kalinya, ia tahu bahwa pemerintah itu benar-benar ada—dan peduli.
“Terima kasih Pak Bupati… Sekarang, kalau hujan turun, anak saya bisa tidur tanpa kami harus berlindung pakai payung di dalam rumah,” katanya pelan, sambil menyeka air mata yang jatuh bukan karena nestapa, tapi karena akhirnya… ia merasa dianggap sebagai manusia.
(Hendra)






