Rakyatmerdekanews.co.id, Tangerang Selatan – Pihak SMP Negeri 10 Tangerang Selatan menegaskan bahwa kegiatan pengumpulan infak yang dilaksanakan di lingkungan sekolah tidak bersifat paksaan.
Program tersebut murni bertujuan menanamkan pendidikan karakter kepada siswa, khususnya dalam membangun kepedulian sosial sejak dini.
Kepala SMPN 10 Tangsel, Kunardi, M.Pd., menjelaskan bahwa pengumpulan infak dilakukan secara sukarela dan hanya melibatkan siswa di masing-masing kelas.
Sekolah tidak menetapkan target nominal tertentu, serta tidak memberikan sanksi atau tekanan kepada siswa yang tidak berpartisipasi.
“Ini bukan soal perolehan uang, tetapi bagaimana membangun karakter anak agar memiliki jiwa peduli. Orientasi kami murni pendidikan, bukan materi,” ujar Kunardi saat ditemui, Kamis (8/1/2026).
Ia menambahkan, kegiatan infak tersebut dilaksanakan secara rutin setiap hari Selasa dan Jumat. Nominal yang diberikan pun sangat bervariasi dan sepenuhnya bergantung pada keikhlasan siswa. Rata-rata infak yang terkumpul per kelas berkisar antara Rp2.000 hingga Rp5.000.
Dana infak yang terkumpul langsung diserahkan kepada pihak sekolah pada hari yang sama untuk dikelola secara transparan.
Dalam satu bulan, infak yang dihimpun pada hari Selasa diperkirakan mencapai sekitar Rp300.000.
Sementara itu, jumlah infak pada hari Jumat bersifat fluktuatif, bergantung pada tingkat kehadiran dan partisipasi siswa.
Kunardi juga menegaskan bahwa pihak sekolah tidak pernah memberlakukan iuran rutin, biaya masuk sekolah, maupun pungutan untuk pembangunan sarana dan prasarana. Seluruh pembiayaan pembangunan sekolah, kata dia, sepenuhnya menjadi tanggung jawab pemerintah daerah melalui anggaran yang telah ditetapkan.
“Selama kepemimpinan kami, tidak ada iuran bulanan ataupun pungutan pembangunan. Semua pembiayaan pembangunan sekolah berasal dari pemerintah,” tegasnya.
Menanggapi adanya komentar maupun dugaan negatif dari sejumlah pihak, termasuk yang mengaku sebagai alumni, Kunardi menyatakan bahwa hal tersebut akan dijadikan bahan evaluasi internal.
Pihak sekolah, lanjutnya, tetap terbuka terhadap kritik dan masukan demi perbaikan ke depan.
“Jika memang ada oknum yang menyimpang, tentu akan kami telusuri. Tidak ada manusia yang sempurna, dan kami selalu terbuka untuk berbenah,” pungkasnya. (Ratna)






