Rakyatmerdekanews.co.id, Bengkalis, 3 Desember 2025. Di sebuah kampung di Daerah Duri-Riau, hiduplah dua bocah laki-laki yang seperti siang dan malam. Fredi Noza, dengan kulit sawo matang dan senyum ramah khas Melayu, serta Surya Lim, dengan rambut lurus dan mata yang cerdas. Fredi, anak dari keluarga Melayu yang taat beragama Islam, suka bermain sepak bola di lapangan kering dekat masjid. Sementara Surya, anak dari keluarga Tionghoa beragama Buddha, sering terlihat bermain layang-layang di halaman kelenteng.
Perkenalan mereka dimulai saat layang-layang Surya tersangkut di dahan pohon di dekat lapangan Fredi. Dengan sigap, Fredi memanjat pohon dan berhasil mengambilnya. Sejak saat itu, mereka menjadi tak terpisahkan. Mereka sering menghabiskan sore bersama, Fredi dengan cerita-cerita tentang pahlawan Melayu, dan Surya dengan dongeng-dongeng Tiongkok. Meskipun Fredi pulang untuk mengaji dan Surya ke kelenteng untuk sembahyang, itu tidak pernah menjadi penghalang. Mereka saling menghormati dan selalu menunggu satu sama lain selesai dengan urusan keagamaan masing-masing.
Ketika beranjak remaja, Fredi dan Surya sama-sama memilih sekolah di STM, di jurusan yang berbeda. Fredi mengambil jurusan Teknik Mesin karena ketertarikannya pada mesin dan otomotif, sementara Surya mengambil jurusan Teknik Listrik karena kecerdasannya dalam hal-hal yang rumit. Di masa ini, persahabatan mereka diuji. Lingkungan pergaulan yang lebih keras dan beragam seringkali memicu pertengkaran kecil akibat salah paham.
Suatu hari, Fredi terlibat dalam perkelahian dengan sekelompok siswa yang mengejek agama Surya. Fredi membela Surya dengan gigih, menegaskan bahwa perbedaan adalah kekayaan, bukan alasan untuk permusuhan. Namun, Surya justru menenangkannya. “Tidak perlu bertengkar, Fred. Balaslah mereka dengan kebaikan, seperti yang kau ajarkan padaku,” kata Surya dengan bijak. Peristiwa itu menjadi pelajaran berharga bagi mereka berdua, bahwa kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah.
Setelah lulus, jalan hidup mereka berpisah sejenak. Fredi melanjutkan pendidikannya di bidang jurnalistik, sementara Surya mengambil kuliah hukum. Hingga akhirnya, mereka kembali ke kampung halaman dengan membawa ilmu dan pengalaman masing-masing.
Fredi, dengan kecintaannya pada budaya dan tanah kelahirannya, memilih untuk menjadi pengusaha homestay yang memadukan budaya Melayu. Ia juga menulis sebagai jurnalis untuk mengangkat isu-isu sosial dan kebudayaan di daerahnya. Tidak hanya itu, Fredi didapuk menjadi ketua organisasi Tuah Aliansi Anak Melayu, sebuah perkumpulan yang berfokus pada pelestarian budaya Melayu.
Surya, yang kini menjadi seorang advokat dan pengacara andal, seringkali berjuang untuk keadilan bagi masyarakat kecil. Selain itu, ia juga mengelola kebun sawit warisan keluarganya dengan etika bisnis yang baik dan berpihak pada kesejahteraan pekerja.
Meskipun kesibukan mereka berbeda, persahabatan mereka tetap terjalin erat. Mereka sering bertemu di kedai kopi langganan mereka untuk bertukar cerita. Fredi akan bercerita tentang upayanya menjaga budaya Melayu, sementara Surya akan berbagi kisah perjuangannya di pengadilan.
Pada suatu sore, Fredi datang ke kantor Surya. Wajahnya terlihat murung. Sebuah kasus sengketa lahan yang melibatkan anggotanya di Tuah Aliansi mengancam kedamaian. Surya mendengarkan dengan penuh perhatian. Ia tidak memandang kasus ini dari sudut pandang suku atau agama, melainkan dari sisi kemanusiaan dan keadilan. Dengan pengetahuannya sebagai advokat, Surya membantu Fredi menyelesaikan masalah itu secara damai, menjauhkan konflik dari ranah etnis dan agama.
Sebaliknya, saat perayaan Imlek, Surya mendapati dirinya diserang isu miring terkait praktik bisnis kebun sawitnya. Fredi, melalui tulisan-tulisannya di media massa, membela Surya dengan fakta dan data, menyingkirkan fitnah yang tidak berdasar. Fredi menegaskan bahwa Surya adalah sosok yang berintegritas dan tidak layak diserang dengan sentimen negatif.
Saat mereka berdua duduk di dermaga, memandangi matahari terbenam, Fredi berkata, “Terima kasih, Surya. Kau selalu ada untukku.”
“Tentu, Fred. Kita sudah seperti saudara. Aku tidak peduli dengan agama atau sukumu. Yang terpenting, kau adalah orang baik,” jawab Surya.
“Dan aku, tidak peduli dengan agama atau sukumu. Kau adalah saudaraku di dunia dan akhirat,” balas Fredi.
Dalam keheningan, mereka berdua memahami bahwa persahabatan mereka adalah bukti nyata dari kerukunan. Di dunia, mereka adalah dua sahabat yang saling mendukung. Di akhirat, mereka percaya, jalinan hati yang tak terputus ini akan terus menjadi catatan amal yang baik, yang akan menghangatkan hati mereka, di mana pun mereka berada.(FN)






