Benarkah Game Online dan Medsos Menjadi Penyebab Utama Perilaku Agresif Anak?

Gambar ilustrasi: Main game online dan media sosial.

Jakarta — Dr.Erlinda, S.Pd M.Pd Pemerhati Abak dan Keluarga Pakar Pendidikan
Komisioner KPAI Periode 2014-2017 Tenaga Ahli & ajubir KSP 2020 sd 2024 menyikapi disekitar persoalan maraknya permainan game online dan media sosial.

Betulkah game online dan media sosial menjadi penyebab utama perilaku agresif anak?
Jawabannya:
Tidak sesederhana itu.
Game online dan media sosial memang dapat memicu atau mempercepat perilaku agresif pada anak tertentu, tetapi bukan penyebab utama. Dalam psikologi perkembangan dan ilmu otak (neuroscience), agresivitas lahir dari interaksi kompleks antara faktor internal dan lingkungan, bukan satu penyebab tunggal.

A. Perspektif Psikologi Tumbuh Kembang Anak
1. Otak anak belum matang sepenuhnya
• Bagian otak yang mengatur kontrol diri dan pengambilan keputusan yakni prefrontal cortex, baru matang penuh sekitar usia 21–25 tahun.
• Sebaliknya, bagian otak yang memproses emosi dan impuls, yaitu amygdala, jauh lebih aktif saat remaja.
Yang akhirnya mempunyai implikasi:
* Anak dan remaja lebih mudah terdorong impuls, emosi, dan sensasi (reward) dari game online dan medsos, tapi itu bukan penyebab tunggal—itu hanya pemicu, bukan akar masalah.
* Agresivitas muncul karena kebutuhan psikologis yang tidak terpenuhi
Menurut teori perkembangan (Erikson, Baumrind, Santrock), agresivitas dipicu oleh:
• kurangnya rasa aman (insecurity)
• tidak adanya model perilaku positif
• kebutuhan akan pengakuan
• frustrasi dan tekanan sosial
• pengalaman perundungan
• minimnya kelekatan aman (secure attachment) dengan orang tua
Game online dan medsos hanya menjadi “wadah pelarian”, bukan sumber utama.

B. Perspektif Neuroscience dihubungkan Cara Kerja Otak Anak di Era Digital
1. Sistem Reward Dopamin
Game dan media sosial mengaktifkan sistem dopamin:
• cepat, instan, memuaskan
• membuat anak ingin mengulang
• meningkatkan impulsivitas jika tanpa pendampingan
Tetapi
dopamin tidak otomatis membuat anak agresif.
Sehingga menjadi masalah adalah ketika:
• anak kurang stimulasi positif dari keluarga/sekolah
• tidak punya ruang mengekspresikan diri
• tidak punya kemampuan regulasi emosi
• tidak ada figur pengasuh yang konsisten
Maka game/media sosial menjadi dominant influence, karena pengaruh lain lemah.

2. Ketidakseimbangan Otak Emosi & Otak Logika
Jika anak:
• sering berada di rumah tanpa interaksi bermakna
• mengalami perundungan
• kurang tidur
• stres akademik
maka aktivasi amygdala (pusat emosi) meningkat → mudah marah, impulsif.
Tanpa peran orang dewasa sebagai co-regulator, anak mudah menggunakan game atau medsos sebagai emotional outlet.

Ini menjelaskan ledakan agresivitas, tapi sekali lagi:
sebabnya bukan game, sebabnya ketidakmampuan otak mengelola stres karena lingkungan pendukungnya tidak kuat.

C. Faktor yang Lebih Besar dari Game/Medsos: Sikap Sosial Masyarakat yang Permisif & Individualistis
Ini poin penting yang sering diabaikan:
1. Masyarakat makin permisif
• kekerasan dianggap biasa (“namanya juga anak-anak berantem”) ==> pembiaran yg berdampak buruk
• konten kasar dianggap hiburan
• pengawasan longgar
• pola didikan cenderung reaktif, bukan preventif
Ini membuat batasan perilaku anak kabur.

2. Individualisme sosial
• keluarga sibuk
• waktu komunikasi orang tua–anak menurun
• sekolah lebih fokus akademik
• masyarakat kurang peduli satu sama lain
Akibatnya:
• anak mencari komunitas alternatif di dunia maya
• identitas dan nilai moral dibentuk bukan oleh keluarga/sekolah, tetapi oleh algoritma digital

Game online bukan penyebab, tetapi ruang substitusi ketika Tripusat Pendidikan melemah.
2. Bagaimana Peran Tripusat Pendidikan (Keluarga – Sekolah – Masyarakat) Mengalami Disfungsi di Era Siber?
A. Keluarga: hilangnya peran sebagai pusat pendidikan utama
• komunikasi minim
• pola asuh inkonsisten
• orang tua kurang literasi digital
• “delegasi pengasuhan” ke gadget
• supervisi lemah

B. Sekolah: tidak lagi menjadi ruang aman psikososial
• kasus perundungan tinggi
• guru tidak dibekali literasi siber & literasi psikologis
• fokus pada akademik, bukan regulasi emosi
• manajemen krisis tidak siap
C. Masyarakat: lingkungan sosial mencair
• tidak ada komunitas pengawasan
• nilai sosial tidak diwariskan
• budaya gotong royong berkurang
• konten digital lebih dominan daripada interaksi nyata
Ketika Tripusat Pendidikan melemah, maka “pendidik utama” anak bukan lagi orang tua–guru–lingkungan, tetapi:
→ gadget, algoritma, game, dan media sosial.
Inilah yang menyebabkan game tampak seperti penyebab, padahal ia hanya mengisi kekosongan sistem pendidikan sosial yang runtuh.

3. Adakah Data KPAI terkait kekerasan anak akibat game online?
Fakta penting:
KPAI tidak pernah menyimpulkan bahwa game online adalah penyebab utama kekerasan anak.
KPAI mencatat beberapa kasus dipicu oleh game, tetapi jumlahnya:
• sangat kecil,
• tidak linier,
• dan tidak signifikan dibanding faktor lain, seperti:
• pola asuh keras
• pengabaian
• perundungan
• kekerasan di rumah
• konflik orang tua
• lingkungan sosial tidak aman
Dalam data kasus KPAI 2011–2023:
• kecanduan game online muncul sebagai kemasan perilaku, bukan akar kekerasan.
• 70–80% kasus kekerasan anak berakar pada keluarga dan lingkungan sosial, bukan game.
Dengan kata lain:
game online bukan sebab, hanya medium.

Kesimpulan Utama
1. Game online dan medsos tidak dapat menjadi kambing hitam tunggal.
Agresivitas anak adalah hasil interaksi:
• biologi otak
• pola asuh
• pengalaman traumatis
• lingkungan pendidikan
• tekanan sosial
• lemahnya ekosistem regulasi emosi

2. Agresivitas meningkat ketika Tripusat Pendidikan mengalami disfungsi.
Apbila keluarga–sekolah–masyarakat nyata +siber) melemah, maka algoritma digital menggantikan peran pendidikan karakter.

3. Faktor sosial seperti permisivitas dan individualisme jauh lebih berpengaruh
daripada game online itu sendiri.

4. Data KPAI menunjukkan bahwa game hanya pemicu minor.
Akar masalah tetap berada pada:
• keluarga
• relasi sosial
• perundungan
• minimnya literasi digital
• lemahnya dukungan psikososial sekolah, (Fahri)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *