Rakyatmerdekanews.co.id, Bireun – Di tengah upaya meningkatkan mutu pendidikan dan kenyamanan belajar, para kepala sekolah UPTD SD Negeri dan UPTD SMP Negeri di sejumlah wilayah Kabupaten Bireuen menyuarakan harapan tulus: sebuah pagar sekolah yang layak dan aman bagi anak-anak bangsa.
Selama bertahun-tahun, pagar sekolah yang ada dibiarkan rapuh dan tak terawat. Sebagian telah runtuh, sebagian lagi hanya berdiri karena ditopang kayu tua dan semak belukar. Kondisi ini bukan sekadar persoalan estetika, melainkan menyangkut keamanan, kenyamanan, dan martabat dunia pendidikan.
Kepala UPTD SDN dan SMPN, yang enggan disebutkan namanya, Selasa (28/5/2025) karena kerendahan hatinya mengungkapkan bahwa kondisi pagar yang rusak berat dan bahkan tak berpagar sama sekali telah berdampak pada ketenangan proses belajar mengajar. Tidak sedikit siswa merasa cemas, apalagi saat melihat orang tak dikenal bebas keluar-masuk lingkungan sekolah.
“Kami butuh pagar, bukan untuk mempercantik sekolah, tapi untuk melindungi masa depan anak-anak kami. Ketenangan belajar itu mahal. Dan kami sudah terlalu lama hidup dalam kekhawatiran,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Panjang pagar yang dibutuhkan bervariasi, antara 100 hingga 500 meter, tergantung kondisi dan luas lingkungan sekolah. Namun hingga kini, permohonan perbaikan atau pembangunan pagar baru belum mendapat tanggapan nyata dari pihak terkait.
Selain mengganggu konsentrasi siswa, pagar yang rusak juga membuka celah terhadap berbagai potensi tindak kriminal di lingkungan sekolah, termasuk pencurian dan gangguan dari luar.
“Kami tidak menyalahkan siapa pun. Kami hanya berharap, ada hati yang tersentuh. Pendidikan tidak bisa tumbuh di tengah rasa waswas. Anak-anak kami butuh rasa aman, sebagaimana layaknya anak-anak di sekolah lain,” tambah salah satu kepala sekolah dengan suara lirih.
Di tengah keterbatasan anggaran, pihak sekolah hanya bisa mengandalkan pagar seadanya, bahkan ada yang memasang pembatas dari bambu atau kawat berduri bekas. Sebuah gambaran yang memprihatinkan di tengah upaya membangun generasi unggul masa depan.
Masyarakat setempat dan orang tua murid pun berharap, pemerintah daerah dan instansi terkait dapat segera merespons jeritan ini dengan tindakan nyata. Sebab, pagar bagi sekolah bukan sekadar tembok pelindung, melainkan simbol kepedulian terhadap masa depan pendidikan.
“Terkadang, perhatian kecil dari pemangku kebijakan dapat menciptakan perubahan besar dalam kehidupan anak-anak kami,” tutup salah satu guru senior dengan haru.(Hendra)






