Inflasi Profesor dan Masa Depan UGM

Rakyatmerdekanews.co.id, Jakarta – Ada dua isu yang ingin saya tanggapi. Pertama, telah terjadi inflasi profesor di Indonesia. Kedua, karena tingkah laku beberapa orang yang viral itu, menurut berita tersebut, banyak calon mahasiswa yang tidak tertarik kuliah di UGM atau tidak akan mendaftar di UGM.

Soal profesor, pengalaman kami di FIB UGM, justru dari segi perbandingan rasional dengan jumlah mahasiswa, jumlah profesor di FIB UGM masih kurang. Bahkan untuk Prodi S3 Ilmu-Ilmu Humaniora, kami masih menggabungkan empat minat program studi karena kurangnya profesor di FIB UGM.

FIB UGM masih bekerja keras mendorong beberapa dosen yang sebenarnya sudah sangat layak jadi profesor, karena memang reputasi akademiknya bagus, bahkan dari segi usia juga sudah mulai senja. Beberapa fakultas di UGM sebenarnya mengalami hal yang sama.

Begitu peluang untuk menjadi profesor semakin transparan dan dapat dipertanggungjawabkan secara objektif, maka, alhamdulillah, tahun 2024 kemarin, dari UGM lolos 81 Guru Besar. Kesannya banyak, tapi dibanding dengan kebutuhan GB di beberapa Fakultas di UGM jumlah itu secara umum masih kurang.

Memang, kemudian, munculnya GB baru bertaburan di mana-mana. Saya ikut mendengar justru dari teman-teman kampus beberapa kolega yang bertebaran di Indonesia. Catatan yang saya dengar; (1) Tidak tahu kapan dan di mana tulisannya, tidak tahu reputasi risetnya, kok ya tiba-tiba jadi profesor. (2) Lah, teman kita itu tulisannya saja masih berantakan, kalau nulis bahkan sebagian masih nunut riset mahasiswanya, lah kok sekarang jadi profesor.

Ada lagi catatan lain; (3) bahwa di beberapa kampus, jumlah profesornya banyak, padahal, mahasisnya tidak banyak. Jadi, memang kesannya kelebihan GB. Ada juga (4) banyak profesor, tapi belum ada Prodi S2 apalagi Prodi S3. Jadi, sang profesor itu mungkin sangat minim punya pengalaman membimbing dan menguji mahasiswa Master dan Doktor.

Jadi, pengertian inflasi tidak bisa dipukul rata. Perlu ada data yang memadai dan dalam situasi dan kondisi seperti apa bisa disebut inflasi.

Terkait dengan isu kedua. Akan banyak calon mahasiswa yang tidak tertarik lagi mendaftar dan kuliah di UGM. Mungkin berita itu benar, mungkin hoaks. Itu sudah tidak penting karena berita/pernyataan itu sudah tersebar luas.

Tekat kami di UGM hanya bekerja maksimal sesuai dengan tuntutan Tridarma Perguruan Tinggi. Pengalaman saya/kami di UGM, kami selalu mengevaluasi, secara sistematis, kinerja kami terkait hal-hal pengajaran/pelaksanaan pendidikan, mengevaluasi riset dengan dibaca/dinilai dan diseminarkan secara terbuka secara bertahap, dan selalu mendorong dan mengevaluasi secara rinci proses-proses pengabdian kepada masyarakat.

Tidak mudah menjadi dosen di UGM, khususnya di FIB UGM, dengan Dekan dan barisan Dekanat yang disiplin, sangat ketat secara akademik, dan juga sangat bertanggungjawab dalam hal keuangan.

Sejauh ini, alhamdulillah, kami telah meluluskan banyak mahasiswa yang bisa bekerja dan beradaptasi dengan peluang-peluang pekerjaan, baik yang linier, dan dalam beberapa hal mungkin tidak linier karena passion alumni tersebut sedikit berbeda dan tidak terlalu sesuai dengan ijazah kesarjanaannya.

Selebih dari itu, kami tidak punya banyak janji. Bagi yang belum pernah melihat sisi dalam dan dapur UGM, dan khususnya FIB UGM, silakan bertandang dan melihat langsung apa yang kami kerjakan di Fakultas. Pintu selalu terbuka. Tapi, tentu saja perlu koordinasi yang rapi, karena, alhamdulillah, selama ini kami tidak kekurangan tamu.

Di kampus UGM, kami sangat-sangat jarang membicarakan apakah kampus kami UGM universitas besar, atau terkenal, atau dinilai sebagai salah satu kampus terbaik. Yang jelas, alumni UGM sudah tersebar di berbagai pelosok dunia dan bekerja dalam berbagai caranya. Biarlah sejarah dan masyarakat yang menilai dan mencatatnya. (Red/Aprinus Salam)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *